Jangan menyia-nyiakan waktu

Saya melihat banyak sekali manusia yang mempergunakan waktu untuk hal-hal yang sangat tidak berguna. Malam yang begitu panjang mereka gunakan untuk membicarakan hal-hal yang sangat tidak berguna atau membaca tulisan-tulisan yang tak ada nilainya. Siang nan panjang justru digunakan untuk tidur. Kalaupun beraktifitas, di siang hari mereka hanya berjalan-jalan atau hanya berkeliling pasar.

Saya memandang mereka seperti orang-orang yang sedang berbincang-bincang di atas perahu, sedangkan perahu yang mereka tumpangi menyeret mereka entah ke mana, namun hal itu tidak disadari. Jarang sekali orang yang saya lihat paham akan makna kehidupan ini dan mempersiapkan bekal untuk menjalani perjalanan abadi. Keadaan manusia sungguh berbeda-beda. Perbedaan terjadi akibat perbedaan taraf ilmu dan wawasan yang mereka miliki.

Di antara manusia, orang-orang yang memiliki kesadaran akan makna hidup selalu mencari tahu dan memperbanyak bekal untuk perjalanannya yang abadi, hingga mereka memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Adapun yang lalai, mereka membawa bekal sekadarnya, atau mungkin keluar dari negerinya tanpa satu tempat bekal apapun. Alangkah banyaknya orang-orang yang berjalan dan telah melalui jalan yang panjang, namun tetap tidak beroleh bekal apa-apa.

Oleh sebab itu, pergunakanlah setiap detik umur Anda dan bersegeralah sebelum kesempatan itu lenyap. Carilah ilmu, carilah hikmah, berlombalah dengan waktu, lawanlah nafsu dan carilah bekal sebanyak-banyaknya. Tatkala semuanya telah terlambat, tak akan berguna lagi penyesalan bagi Anda.

— Shaidul Khathir
Imam Ibnul Jauzi

Kisah Yang Menakjubkan Tentang Ikhlash

Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisahnya:

“Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Al-Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa,

“Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu wahai Yang pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya. Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?” Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.” Dia bertanya, “Apa maksudnya?” Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan. Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru. Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!” Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?” Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.” Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?” Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar. Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.” Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata. Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?” Saya jawab, “Ya.” Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.” Saya tanya, “Memangnya kenapa?” Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.” Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq = sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.” Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!” Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.

Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!” Saya jawab, “Labbaik.” Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.” Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?” Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.” Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain?!” Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.” Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.” Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.” Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.” Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?” Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.” Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.” Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.

Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Aba Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?” Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?” Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.” Saya bertanya, “Ke mana?” Dia menjawab, “Ke akherat.” Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!” Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.” Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!” Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy, 8/223-225)

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=140725

Diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy

17 Rabi’ul Awwal 1435 H

Daarul Hadits – Ma’bar – Yaman

http://www.ibnutaimiyah.org/2014/01/setiap-kali-teringat-dia-dunia-ini-terasa-tidak-ada-harganya/

Beberapa Perangkat Lunak untuk Membantu Pekerjaan

Bismillaah,

  1. Skype : komunikasi secara text, video, kirim file, berbagi layar dan lain-lain.
  2. Teamviewer : remote desktop rekan kerja / klien dan untuk presentasi pekerjaan.
  3. Dropbox : media simpan online.
  4. Pocket : menyimpan artikel-artikel penting untuk dibaca di kemudian waktu.
  5. Evernote : mencatat segala sesuatu (foto, file, suara, text).
  6. Google Task : to do list pekerjaan dan kegiatan.
  7. ImTranslator (versi web) / trs (versi terminal) : penerjamah kata yang tidak diketahui.
  8. Terminal :

Burung beo dimakan Kucing

Al Kisah, dahulu ada seorang syaikh yang selalu mengajarkan murid-muridnya perkara akidah. Dia mengajari mereka tentang kalimat “laa ilaaha illallah”, dia berusaha menjelaskan dan menanamkannya pada mereka, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tatkala dia sedang mengajari mereka tentang “laa ilaaha illallah” dan menanamkannya di dalam jiwa mereka, salah satu muridnya menghadiahkannya seekor burung beo, karena dahulu syaikh ini suka memelihara burung dan kucing.

Dengan perjalanan waktu, dia menyukai burung beo itu dan selalu membawanya bersamanya di setiap pelajarannya. Sampai burung beo itu bisa mengucapkan Kalimat “laa ilaaha illallah”. Dan sang burung selalu mengucapkannya siang dan malam.

Suatu ketika para murid mendapati syaikh mereka sedang menangis terisak-isak. Maka mereka pun bertanya kepadanya mengenai apa yang telah membuatnya menangis?!. Dia menjawab bahwa kucingnya telah memangsa beo tersebut. Mereka berkata kepadanya: “apakah karena burung ini, engkau menangis? Kalau engkau mau, kami bisa memberimu burung beo yang lain dan lebih baik dari burung beo itu.”
Syaikh pun menolaknya, dan mengatakan kepada mereka: ” bukan ini yang membuatku menangis, yang membuatku menangis adalah ketika si beo diserang oleh si kucing, si beo hanya berteriak-teriak sampai mati. Padahal si beo sebelumnya banyak mengucapkan “laa ilaaha illallah”. Tetapi ketika si beo diserang oleh si kucing, dia lupa mengucapkan “laa ilaaha illallah”, dia hanya berteriak-teriak. Karena dahulu si beo cuma mengucapkannya dengan lisannya, sementara hatinya tidak mengilmuinya dan tidak pula menghayatinya.”
Selanjutnya syaikh mereka berkata: “Aku takut kalau keadaan kita seperti burung beo ini. Sepanjang hidup, kita selalu mengulang-ulang “laa ilaaha illallah”, tetapi ketika kematian mendekati kita, kita lupa terhadapnya dan tidak ingat, karena hati kita tidak meresapinya (dan tidak pula memahaminya).”
Maka para muridnya pun ikut menangis terisak-isak karena takut tidak mempunyai keikhlasan dan kejujuran hati dalam mengucapkan “laa ilaaha illallah”.

Demikian pula dengan kita -wahai para pembaca- apakah hati kita sudah memahami, meresapi, dan menghayati “laa ilaaha illallah”?!.
Tak ada sesuatu yang naik ke langit lebih agung daripada keikhlasan hati, dan tak ada sesuatu yang turun dari langit lebih agung daripada taufiq Allah. Maka sesuai dengan kadar keikhlasan hati kita akan datang taufiq dari Allah.

(Sumber dari seorang teman kami Abul ‘Abbas, jazaahullaahu khairan)

TEKAD BAJA & SEMANGAT MEMBARA !

Al-Imam Ibnul Jauzy rahimahullahu ta’ala berkata :

“Setiap manusia tidak boleh meninggalkan suatu keutamaan yang mungkin bisa dicapai, bahkan ia harus berusaha untuk mencapainya dengan sekuat tenaga, sebagaimana ungkapan seorang penyair, “Jadilah lelaki dengan kaki berpijak di bumi, amun cita-cita tergantung di langit nan tinggi…”. Jika anda memiliki kesempatan untuk melebihi para ulama dan ahli zuhud dalam hal amal, ilmu dan pandangan, lakukanlah. Toh mereka juga adalah manusia dan anda pun manusia. Tak ada orang yang duduk-duduk saja kecuali ia adalah orang yang sangat lemah kemauannya dan rendah jiwanya. Ketahuilah bahwa anda saat ini berada dalam medan perlombaan yang harus dimenangkan. Anda harus berjuang keras karena waktu-waktu demikian kencang berjalan. Janganlah menjadi pemalas abadi, sebab lewatnya kesempatan semuanya berasal dari sikap malas. Tak seorang pun yang sukses kecuali yang memiliki keinginan yang sangat kuat dan sungguh-sungguh. Semangat tinggi akan menggelora dan membakar dada laksana mendidihnya air di dalam bejana, sebagaimana ungkapan seorang penyair, “Memang aku tak punya harta kecuali gubukku, dari ketiadaan aku bangun hidupku, aku puas dengan apa yang Alloh beri, namun cita-citaku melangit dan terus meninggi…””

<[Sumber: “Shaidul Khatir” karya Ibnul Jauzy]>

Generasi Emas

YA, Islam telah memiliki suatu zaman yang melahirkan GENERASI EMAS

Sebuah Generasi yang tidak dilemahkan DUNIA, dan senantiasa bersemangat terhadap kemuliaan AKHIRAT

Sebuah Generasi yang menjadikan Dunia di Tangan Mereka dan Akhirat di Hati Mereka

Sebuah Generasi yang SUKSES DUNIA dan MULIA AKHIRATnya

Generasi Terbaik pada masa keemasan Islam yang Wajib menjadi Panutan

Perintah untuk mengetahui program/software yang sedang akses file tertentu

Mungkin dari kita pernah mengalami sewaktu me-copy file, me-install software atau me-remove software di linux muncul pesan kesalahan bahwa file tertentu sedang digunakan oleh program lain, dan proses tersebut tidak dapat dilanjutkan lagi. Sebagian dari kita juga sudah mengetahui untuk melihat proses-proses yang sedang berjalan di linux bisa menggunakan perintah top atau ps -aux, namun jika perintah-perintah tersebut belum bisa menampilkan program apa saja yang sedang mengakses file tertentu, maka kita bisa menggunakan perintah-perintah berikut:


lsof path-file

fuser -v path-file

contoh penggunaan:


lsof /var/cache/debconf/config.dat

fuser -v /var/cahce/debconf/config.dat

Semoga bermanfaat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.